SOTOJI PAGI-PAGI

Suami saya sangat suka makan mi, bihun, soun, dan sejenisnya. Lebih suka lagi kalau bentuknya berkuah, panas dan pedas. Slrrrpppp …! Selera saya yang sebetulnya biasa-biasa saja terhadap hidangan mi pun ikut terundang melihat suami saya menikmati mi berkuah panas itu. Tampak sangat sedap. Apalagi rumah kontrakan kami terletak di daerah yang cukup dingin, sangat mendukung. Yah, anggaplah villa karena you can see very beautiful scenery from the balcony. Pemandangan indah, makan mi berkuah panas dan pedas, cuaca dingin. Mantaabbb!

Beberapa hari lalu saya mendapat Sotoji. Yah, tidak lama setelah saya berkunjung ke web-nya di http://sotoji.com. Senangnya … Gara-gara seorang rekan saya menyebut-nyebut soto instan ini membuat anaknya merem melek ketika memakannya, saya penasaran untuk mencobanya. Saya bawa sotoji pulang ke kontrakan. Sepertinya, suami saya bakal senang melihat si Sotoji ini. Saya juga senang karena tidak usah berpusing-pusing memikirkan makanan selingan apa yang bisa saya hidangkan untuknya. Mi melulu saya juga bosan menyajikannya.
Pagi-pagi, suami saya seperti biasa berkunjung ke dapur. Dia bilang, “Bu, masak ini dong, pengen coba.”

Nah, ini variasi baru. Saya juga toh tidak usah bingung menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasaknya. Oh, rupanya suami saya sudah menyiapkan dua batang pokcoy. Dia ingin Sotoji dimasak dengan sayur itu. “Oke, Pak …!”
Sotoji plus-plus

Cuma beberapa menit, setelah air mendidih, saya merebus soun si Sotoji. Tidak lupa jamur keringnya, dong. Nah, sayurnya juga … saya masak setelah soun agak lembek. Setengah matang, suami saya suka itu. Aha! Ada bakso kecil-kecil. Beberapa butir, lah … cukup. Ada karbohidrat, vitamin, protein, sudah lengkaaaappp!

Saya siramkan kuahnya ke atas soun yang telah lembek di mangkuk yang sudah berbumbu. Aromanya itu, lho … hmmm … mengundang! Bukan mengundang maling … mengundang rasa lapar, lah … pastinya! Bisa jadi pemilik kontrakan ikut terundang juga sih, kalau aromanya sampai tercium ke sana. Maklum, rumah kami persis di atas rumah mereka. Euh, saya jadi lapar lagi, deh!

Saya berikan mangkuk itu kepada suami saya. Maksudnya, mangkuk yang sudah teronggoki si Sotoji ini, ya … bukan mangkuk kosong. Suami saya–yang sedang jongkok di depan televisi yang entah di stasiun mana dan sedang menyiarkan acara apa–pun mulai menyantapnya. Posisinya tidak berubah, tetap jongkok! Sampai Sotoji habis!!! Euleuh, euleuh … saya cuma bisa mencicipi sedikit. Seger, mang! Tapi, keburu dihabiskan oleh suami saya. Ada sih, sebungkus lagi. Tapi, biar buat suami saya saja lah, biar dia senang selalu …. Saya mengalah, siapa tahu nanti dapat kiriman Sotoji lagi. Wkwkwkwk, ngareeppp!

Tandas sudah sebungkus Sotoji. Ternyata, untuk ukuran soun, porsi Sotoji cukup besar. Apalagi kalau ditambah dengan sayur dan bakso seperti yang saya hidangkan untuk suami… kenyang total! Belum lagi kandungan gizinya kalau untuk sarapan mah, pas! Satu lagi yang paling penting buat kami. Di sudut kanan bawah bungkus Sotoji, tertera logo halal … bikin hati tenang, tenteram, aman, dan sejahtera.

Percuma juga kalau cuma mendengar kabar. Kalau mau yakin, mendingan jalan-jalan dulu ke web Sotoji di http://sotoji.com. Terus, langsung dicoba, deh! Jangan lupa dimasak dulu ya … Terbukti ada yang merem melek, ada yang jongkok lupa duduk, kan???

SIAPKAH SAYA MENJADI SEORANG GURU?

Ketika hati kecil saya kembali mempertanyakan, “Apakah saya siap menjadi seorang guru?”, keraguan pun kembali menerobos pikiran saya. Aneh, tapi memang begitulah kenyataannya. Saya kembali meneropong peristiwa lampau ketika saya baru saja menjadi seorang sarjana segar yang kebingungan dengan macam kerja apa yang akan menjadi nasib saya kelak. Berbagai kemungkinan datang silih berganti di benak saya: menjadi editor buku atau majalah, menjadi pengajar internasional (maksudnya mengajar di luar negara kita tercinta ini, hal yang menjadi cita-cita terbesar saya), dan terakhir, menjadi pengajar lokal alias mengajar di sekolah formal. Jangankan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, menjadi management trainee, menjadi tenaga administrasi atau tata usaha, bahkan menjadi tenaga pemasaran pernah tebersit di kepala saya sehingga saya mengajukan lamaran kerja ke instansi, lembaga, atau perusahaan tersebut. Ketika itu, cuma satu yang ada di pikiran saya: yang penting kerja! Menganggur adalah sebuah hal yang sangat saya benci. Hal itulah yang membuat saya berpikir bahwa pekerjaan apa pun asalkan halal akan saya jalani jika memang nasib sudah berpihak. Karena memang Allah Swt. sudah merencanakan hidup saya, semua lamaran saya tidak bersambut kecuali lamaran-lamaran yang tertuju ke institusi pendidikan. Ya, akhirnya saya menjadi guru.

Teaching is a work of heart. Kalimat itu saya dapatkan dari sebuah pelatihan dasar untuk menjadi guru sejati (baca: profesional). Hal itulah sesungguhnya yang menjadikan pekerjaan guru adalah pekerjaan berat. Ketika mengajar, pikiran (kognisi), hati (afeksi), dan tingkah laku (psikomotor), harus benar-benar sejalan. Luar biasa! Mungkin itulah pula sebabnya Bloom mengatakan dalam taksonominya bahwa pembelajaran harus melibatkan tiga aspek: kognisi, afeksi, dan psikomotor. Tidak hanya siswa yang harus mencapai tiga aspek tadi, tetapi guru sebagai pengemban tugas pendidikan juga harus melibatkan tiga aspek tadi.

Dalam pandangan saya, melibatkan pikiran, hati, dan tingkah laku secara tepat dan selaras ketika mengajar merupakan percontohan bagi siswa sebagai objek didik. Mereka secara sadar atau tidak sadar melihat, mendengar, merasakan, menyerap, sampai akhirnya melakukan hal yang paling tidak hampir sama dengan tujuan pembelajaran. Yang sulit adalah mencari perimbangan antara hati dan pikiran. Ketika pikiran logis yang berperan, biasanya emosi menjadi kaku. Ketika emosi yang dikedepankan, pikiran logis tiba-tiba tersembunyi. Belum lagi menentukan tingkah laku yang tepat setelah hati dan pikiran seimbang. Benar adanya bahwa setiap aspek menjadi hal penting dalam pembelajaran.

Kebanyakan orang berpikir bahwa yang penting dalam pembelajaran adalah keberhasilan pendidikan yakni ketika siswa mampu menyelesaikan studinya dengan nilai tertinggi. Saya ingin mengutip teori Jerome Bruner yang saya peroleh dalam program Akta Mengajar IV bahwa pembelajaran dapat dikatakan berhasil jika terjadi transfer. Namun, jika memang teori itu harus dijadikan pegangan, janganlah lupa bahwa teori lain – di antaranya teori R.M. Gagne – mengatakan bahwa pembelajaran dikatakan berhasil jika telah terjadi perubahan tingkah laku secara tepat dan permanen. Tingkat teori Gagne nampak lebih tinggi karena memandang ilmu sebagai kebutuhan untuk melangsungkan kehidupan nyata secara benar dengan ilmu pengetahuan yang didapat melalui pembelajaran (transfer) tadi.

Terlepas dari berbagai teori pendidikan, segala kenyataan di lapangan begitu kuat menciutkan diri saya sebagai seorang tenaga pendidik. Kesulitan demi kesulitan melemahkan keyakinan saya tentang keberhasilan pendidikan. Dalam hal ini, kreativitas saya sebagai seorang guru benar-benar dipertanyakan. Kompetensi saya benar-benar diuji. Di mana letak loyalitas saya sebagai seorang guru profesional?

Sempat saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Chaedar Alwasilah tentang kompetensi seorang guru di sebuah suratkabar. Artikel tersebut membuat saya semakin “melek” akan “ketidakmelekan” saya terhadap dunia pendidikan. Ditambah lagi pernyataan-pernyataan dari buku Menjadi Guru Profesional yang ditulis oleh Uzer Usman yang membuat jantung saya makin dag-dig-dug. Makin saya dalami tulisan tersebut, makin saya merasakan bahwa peran saya dalam pendidikan belum termaknakan. Setidaknya beberapa hal harus menjadi pertimbangan saya (lagi) sebagai langkah berikutnya ketika benar-benar ajeg (baca: telanjur) untuk memutuskan menjadi seorang guru.

Kira-kira, pernyataan tentang seorang guru yang membekas di kepala saya saya rangkum menjadi beberapa hal berikut.

  1. Paling tidak memiliki kapasitas ilmu yang cukup sesuai dengan latar belakang pendidikannya, juga memiliki pengetahuan yang cukup tentang pendidikan dan keguruan.
  2. Memiliki keinginan dan kemampuan untuk menyampaikan ilmu dengan berbagai strategi serta metode yang tepat.
  3. Memiliki kemahiran berbicara dan menulis yang baik sehingga dapat meyakinkan peserta didik.
  4. Memiliki kemauan dan kemahiran membuat perencanaan pembelajaran yang kreatif.
  5. Memiliki kemampuan manajerial yang baik.
  6. Peka dengan perubahan lingkungan dan percepatan perubahan ilmu pengetahuan.
  7. Memiliki keinginan dan membiasakan diri untuk meningkatkan kualitas diri.
  8. Memiliki kemampuan mengevaluasi.
  9. Memiliki kemampuan negosiasi dan diplomasi.
  10. Memiliki optimisme terhadap perubahan tingkah laku perserta didik.

Kesepuluh hal tersebut baru beberapa dari banyak hal yang sebenarnya harus dimiliki seorang guru. Saya semakin bingung ketika menemukan kenyataan bahwa banyak pihak termasuk saya masih mengabaikan aspek-aspek penting yang seharusnya menjadi paket dalam diri seorang guru.

Fenomena Sertifikasi Guru

Sebelumnya, di negeri kita terdapat sekolah khusus untuk pendidikan guru yang disebut SPG. Menurut cerita, betapa ketatnya sistem perekrutan calon siswa SPG sehingga selanjutnya guru-guru produk SPG benar-benar berkualitas. Namun, terdengar cerita juga bahwa kemudian kualitas SPG semakin menurun karena keketatan sistem yang melonggar. Guru bukan lagi menjadi primadona karir, tetapi menjadi alternatif (bahkan terakhir) sehingga akhirnya SPG ditutup karena dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

Kemudian, pemerintah memutuskan bahwa untuk menjadi guru dibutuhkan Akta Mengajar IV. Akta tersebut awalnya hanya bisa dimiliki oleh para lulusan ilmu kependidikan atau IKIP (sekarang sudah menjadi universitas). Namun, selang beberapa waktu akta tersebut bisa juga dimiliki seorang lulusan non-kependidikan alias ilmu murni dari berbagai perguruan tinggi dengan syarat dia harus mengikuti perkuliahan khusus kependidikan paling tidak selama enam bulan.

Banyak lulusan ilmu murni yang mengikuti program ini termasuk saya dengan berbagai motivasi.Adabeberapa orang yang benar-benar idealis untuk menjadi seorang guru. Mereka merasa diri terpanggil menjadi guru sejati. Seketika setelah lulus mereka memutuskan untuk mendalami ilmu pendidikan.Adabeberapa orang yang mengikuti program akta mengajar untuk menjadi guru pegawai negeri.Adayang merasa telanjur basah menjadi guru padahal bukan lulusan kependidikan.Adabeberapa orang yang terpaksa mengikuti karena dipaksa institusi. Bahkan, ada pula yang mengikuti untuk mengisi waktu luangnya daripada menganggur tak karuan.

Sekalipun pernah bercita-cita menjadi guru sejak SMP, saya sendiri merasa berada dalam ketelanjuran. Semuanya serbatanggung setelah saya menjalani beberapa tahun menjadi guru. Tadinya, saya berpikir jam terbang saja cukup. Ternyata tidak! Pikiran saya sangat buta terhadap ilmu pendidikan. Selain itu, saya juga pernah merasa tersentil karena kredibilitas keguruan saya pernah dipertanyakan melalui simbol selembar kertas: Akta Mengajar IV. Semua hanya terbatas pada itu saja. Padahal, dalam program tersebut semua peserta diajak untuk membuka cakrawala yang sangat luas tentang pendidikan. Semua itu tidak ditemukan dalam perkuliahan ilmu murni. Sungguh mengherankan jika program ini dianggap sebelah mata.

Kini, pemerintah memang berkeputusan lagi bahwa guru haruslah memiliki sertifikat. Untuk memeroleh sertifikat ini pemerintah masih dalam tahap sosialisasi yang secara teknis saya sendiri tidak memahaminya. Apa pun bentuknya: Akta IV, sertifikasi guru, atau apa pun, alangkah indahnya dunia pendidikan jika semua orang tenaga kependidikan memiliki sebagian besar aspek dalam paket keguruan di atas. Alangkah mendekati sempurna jika dunia pendidikan kita dihuni oleh orang-orang yang benar-benar sadar bahwa dunia pendidikan bukanlah alternatif terakhir dunia karir.

Tanpa bermaksud bergibah, saya ingin membagi cerita tentang pengalaman saya belajar di program Akta Mengajar IV. Ketika kami tiba pada waktu micro-teaching, semua peserta diharuskan tampil sekitar sepuluh menit sebagai ajang uji coba mengajar. Setiap orang tampil dengan gaya masing-masing, termasuk saya. Tampillah seorang rekan sekelas saya. Setelah beberapa menit pertama, tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Kami berpikir bahwa beliau sedang melucu karena dalam kesehariannya, beliau termasuk orang yang kocak dan iseng. Namun, beberapa menit kemudian kami tersadar bahwa beliau benar-benar tak mampu melakukan micro-teaching, mungkin karena demam panggung. Semua teman berusaha menyemangati dan meyakinkan bahwa beliau bisa. Namun, harapan itu tidak terwujud. Beliau tetap dalam kebisuannya sampai akhirnya dosen kami mempersilakan beliau untuk duduk kembali. Semua orang membicarakannya, sungguh hal ini sangat membuat kami sedih dan cemas. Bagaimana jika kami pun demikian di hadapan siswa. Sanggupkah kami menjadi guru yang profesional?

Akhirnya, saya semakin yakin bahwa menjadi guru memang bukanlah hal mudah. Begitu banyak hal melingkupinya. Semuanya harus dimaknai secara penuh, bukan hanya dijadikan formalitas. Sungguh berat! Sekali lagi, siapkah saya?

The Gifted One

Saya baru paham istilah gifted secara konkret setelah terjun ke dunia pendidikan secara langsung sekitar tahun 2005. Gifted diberikan kepada seseorang (anak, itu yang saya perhatikan) yang memiliki kelebihan kemampuan, jauh di atas rata-rata orang seusianya, jauh di atas orang kebanyakan, bahkan orang dewasa sekalipun. Pada dasarnya dia tidak memiliki kesulitan dalam menyerap segala informasi yang ada di sekitarnya.  Dia mampu menyimpan segala hal penting di otaknya. Kebanyakan anak gifted yang saya lihat cenderung memiliki minat sangat tinggi terhadap sesuatu dan dia akan menelanjangi hal yang diminatinya tersebut hingga hal terkecil yang mungkin bagi banyak orang menjadi sesuatu yang berlebihan atau mungkin dianggap mencari-cari kepayahan  

Ya, sederhananya begitulah.

Wingky, dia salah satu siswa saya yang gifted yang juga diklaim menyandang autisme. Dia cenderung temperamental, memiliki kesulitan dalam pengelolaan emosi dan bermasalah dalam lingkungan sosial. Secara fisik dia tampak normal. Tampan. Hanya sedikit kurang terawat. Tapi, lebih tepat jika saya katakan kurang peduli dengan perawatan.

Suatu hari pernah dia bercakap dengan orthopaedagogis-nya yang rekan saya juga, Maya Yulianti. Mereka bercakap soal, “Kalau begini, kenapa harus begitu?” Kalau akan kotor lagi, kenapa harus mandi? Kalau harus dibuang lagi (kencing), kenapa harus minum? Kalau harus bangun lagi, kenapa harus tidur? Teman saya cerdas. Dia menjawab pertanyaan Wingky dengan pertanyaan lagi sehingga membuatnya terdiam dan berpikir, membenarkan bahwa jawabannya sama dengan pertanyaan-pertanyaan Maya.

Wingky kurang menyukai gaya  belajar konvensional. Sebenarnya, cenderung menolak gaya belajar macam itu. Akhirnya, dia akan memilih untuk berkeliaran ke luar kelas ketika merasa bahwa pembelajaran tidak penting, tidak menarik, atau standar. Atau, dia tetap memilih di dalam kelas ketika merasa bahwa pembelajaran itu penting dan harus diketahuinya. Tapi, dia memilih tidak duduk baik mendengarkan gurunya atau melakukan aktivitas normal layaknya siswa. Dia akan berada di tempat mana saja asalkan tidak di bangku atau di tempat lain bergabung bersama teman lainnya. Dia akan berada di meja guru, di pojok kelas, di karpet jika teman-temannya di bangku belajar, dan yang lebih spektakuler adalah berbaringan di kolong meja atau apa pun yang berkolong dan cukup untuk dia kolongi.

Terkadang saya antara sadar dan tidak sadar apakah dia ada di dalam forum atau tidak. Yang pasti, orthopaedagogis-nya selalu berusaha mendorong dia untuk masuk jam pelajaran saya, bahasa Indonesia, karena dia memiliki kendala bahasa, khususnya menulis. Tidak dimungkiri, apa pun yang saya jelaskan akan diserap dengan baik, asalkan suara saya terdengar olehnya. Ada satu syarat lainnya, jangan suruh dia melakukan aktivitas menulis.

Saya sempat menjelaskan sesuatu kepada siswa-siswa saya ketika aktivitas berlangsung di dalam kelas. Ketika saya mengajukan sebuah pertanyaan, tidak ada satu siswa pun dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sebuah suara terdengar menjawab pertanyaan saya. Ajaib, sosoknya tidak ada. Ternyata Wingky menjawab pertanyaan saya dari kolong meja di antara kaki-kaki para siswa. Ketika itu semua temannya duduk melingkar, menghadap ke meja-meja yang disatukan di tengah ruang kelas. Semua sempat terdiam melongo. Ya, dari kolong meja pun Wingky mendengarkan saya.

Awalnya saya cemas dengan kemajuan belajar wingky. Tapi, sejak kejadian itu kecemasan saya kabur. Saya memiliki sebuah optimisme bahwa wingky mampu mengadopsi semua informasi dengan baik selama dia mendengarkan saya dan berada dalam forum. Lagipula, Maya begitu intensif memberikan perlakuan khusus kepadanya, siap untuk diajak berdiskusi oleh Wingky kapan saja dia mau selama  berada di sekolah. Maya membuat semacam target belajar tersendiri yang terprogram secara kontinyu untuk Wingky. Sebenarnya tidak hanya wingky, semua anak berkebutuhan khusus pun dibuatkan program tersendiri.

Kecepatan otak Wingky lebih tinggi dibandingkan kecepatan motoriknya, yang saya ingat betul adalah motorik halusnya. Mungkin dia kurang mendapatkan stimulasi yang tepat ketika balita. Atau mungkin, kendala motoriknya baru disadari orang-orang tercinta di sekitarnya setelah agak besar. Wingky berkesulitan dalam menulis, merapikan benda-benda pribadi, melipat, menggunting, menempel, dan lain-lain yang melibatkan motorik halusnya.

Kertas kerja Wingky selalu keriting, kotor, dan tulisannya berantakan tidak terbaca. Huruf-hurufnya terlalu besar dibandingkan dengan ruang tulis di antara dua garis yang sudah standar dibuat dalam buku tulis. Intinya tulisannya menabrak garis-garis batas tulisan. naik dan turun. Tulisannya ringkas, tetapi tidak mewakili. Jika dirunut lagi apa yang dituliskannya, ada dua kemungkinan yang muncul. Pertama, ketika kata yang dituliskannya berhubungan langsung dengan materi, dia berusaha menyampaikan informasi kepada saya bahwa dia memahami pertanyaan saya, hanya saja dia tidak bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan tangan dengan batasan waktu tertentu.  Kedua, ketika yang dituliskannya tidak berhubungan langsung dengan materi, apa yang dituliskannya dihubungkan dengan logikanya berdasarkan pengetahuannya tentang hal yang jadi pertanyaan. Tidak jarang pula Wingky tidak mengisikan jawaban atau menyelesaikan tugas. Itu artinya, dia tidak tahu atau hal yang diperintahkan tidak penting baginya.

Sering saya mendapati tulisan Wingky yang spektakuler. Maksudnya, saya dapat membaca arah berpikir Wingky yang bagi kebanyakan anak seusianya belum terpikirkan. Dia cerdas. Memang dia sangat cerdas. Di sisi lain, kendalanya dalam hal motorik dan pengelolaan sosial-emosional kerap membuat dia frustrasi. Inilah yang membuat dia memilih lebih menarik diri dari lingkungan teman sebayanya. Padahal, dia suka juga bercanda dengan caranya: mengisengi temannya yang juga sesama penyandang autisme yang kelebihannya berlawanan dengannya: secara sosial-emosi cerdas. Cara bercandanya cenderung kasar dan menyakiti, tetapi maksud dia sungguh-sungguh bercanda, tidak ada maksud menyakiti dan mengasari.

Wingky sering mengalami kekesalan atas sesuatu yang mengganggu ketenangannya. Dia senewen dengan pembelajaran yang monoton. Dia bosan dengan terus berada dalam kelas. Adrenalinnya butuh penyaluran lebih, mencari sesuatu yang lain di luar ruangan. Mungkin udara dalam ruang terasa sesak, belum lagi perhatian guru harus terpecah kepada sekitar 15 anak. Dia ingin perhatian lebih yang tidak berlebihan. Perhatian yang diinginkannya adalah melayaninya secara wajar dan mengakomodasi keliaran berpikirnya secara proporsional.

Sayang sekali jiga anak semacam Wingky dianggap sebagai sosok outsider yang menyulitkan guru untuk menunaikan tugas. Memang sekali lagi, para Wingky ini membutuhkan perhatian khusus yang tak tampak dikhususkan. Perlakuannya memang khusus, dibutuhkan pemikiran ekstra untuk mengimbangi kecepatan berpikirnya. Saya sendiri belum bertemu Wingky lain. Saya ada di antara berharap dan tidak bertemu dengan Wingky lain, tapi saya harus siap. Berharap karena ingin anak-anak semacamnya terakomodasi. Tidak berharap karena khawatir kemampuan saya tidak pernah cukup membendung kecepatan berpikirnya. Intinya, saya harus betul-betul jauh lebih kreatif daripada sekadar kreatif.

Mungkin sikap full of service terhadap para Wingky akan melelahkan, tapi bayaran untuk menunaikan tugas semacam ini tidak akan pernah putus sampai mati sekalipun. Insya Allah.

“Dan hendaklah kamu takut kepada Allah jika orang-orang meninggalkan generasi yang lemah, yang khawatir akan kesejahteraan mereka. Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengatakan perkataan yang benar.” (QS An Nisa, 4: 9)

Dari Sidang Proposal

Seorang bijak pernah berkata bahwa satu penundaan menyebabkan tertundanya satu keberhasilan. Yang menjadi persoalan adalah bahwa satu penundaan justru akan menjadi awal atas penundaan-penundaan lainnya. Penundaan itu bertumpuk dan tampaknya itulah yang membuat kesuksesan hanya menjadi bayang-bayang cantik dalam benak kita.

Belakangan ini saya dapat merasakan kebenaran atas pernyataan seorang bijak itu. Saya telah melakukan penundaan atas keberhasilan saya yang justru membuat saya mandeg. Saya merasakan hal sulit, yakni betapa waktu begitu sempit, mengungkung dan membatasi gerak langkah saya sehingga saya mesti berpikir berlipat-lipat lebih kreatif agar saya bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang relatif terbatas.
Gerak saya mendadak jadi lebih cepat. Itu otomatis terjadi. Mestinya gerak cepat ini sudah saya lakukan sejak saya melakukan penundaan pertama. Jika memang saya lakukan, entah ada di mana saya sekarang ini. Yang pasti, saya tidak berada pada titik ini. Saya akan berada di sebuah titik yang lebih jauh, titik yang lebih tinggi sekalipun pada titik tersebut kesakitan yang saya rasakan mungkin lebih luar biasa. Namun, pada titik itu pula saya mencapai kematangan hidup yang lain: sebuah keberhasilan yang lain yang tidak terlalu banyak diperhitungkan orang.

Di ruang sidang itu, akhirnya saya duduk di hadapan tiga penguji dan seorang pemimpin sidang yang sekaligus pembimbing-kedua saya. Hari itu saya berada dalam rasa tidak yakin atas apa yang saya pertanggungjawabkan di hadapan sidang. Sungguh saya tidak ingin mengelak dari situasi itu. Saya sudah memilih untuk berada di sana dan saya harus siap sedia dengan segala risiko berupa serangan-serangan yang memohon jawaban yang dinamakan objektivitas atas apa yang sudah saya tuliskan dalam proposal saya, kata demi kata.

Tampak ketidaktelitian saya. Tampak ketidakoptimalan saya. Tampak ketidakyakinan saya. Tampak saya kurang eksploratif menelaah dunia yang saya sendiri meragukan sisi menariknya. Tapi saya harus melakukan satu kajian, bahkan dari hal yang bagi orang lain mungkin tampak kurang greget.

Masih bersyukur para penguji memberikan saran-saran dan kritik yang mencerahkan. Mereka masih sudi memberikan nilai yang boleh dikatakan layak entah atas dasar apa. Saya sendiri sedikit tercengang sampai saya lupa diri, nyaris tidak bersalaman dan mengucapkan terima kasih kepada pembimbing saya. Saya merasa konyol sekali lagi. Saya merasa dongkol pada diri saya sendiri yang memutuskan untuk mengikuti rasa malas dan memilih melakukan hal lain yang maknanya longgar.

NILAI: HASIL ATAU PROSES?

(Sebuah Tanggapan atas Tulisan Jakob Sumarjo)

 

Suatu pagi, saya berbincang dengan Bapak saya yang keren. Kali itu Bapak mengabari saya sebuah tulisan menarik yang ditulis Jakob Sumarjo. Tulisan pendek, tapi sarat maksud dan benar-benar membuat Bapak dan saya sama-sama mengerutkan kening membuat kerutan di kening Bapak dan saya semakin jelas.

 

Dalam tulisan itu Sumarjo membahas bahwa kini orang semakin cenderung memandang nilai (baca: angka atau huruf mutu) sebagai sebuah parameter keberhasilan pendidikan (formal). Semakin tinggi nilai yang diperoleh, semakin berhasillah seseorang, semakin berhasil pula pendidikan.

 

Saya jadi teringat akan sebuah peristiwa. Seorang ibu yang anaknya adalah siswa saya menyampaikan keluhannya bahwa apa yang dikorbankannya untuk sekolah –biaya pendidikan yang cukup tinggi– tidak sebanding dengan pelayanan yang diberikan pihak sekolah. Beliau protes karena perilaku dan prestasi anaknya tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya: santun, berbudi, dan mendapatkan nilai tinggi. Yah, dalam hal ini pihak sekolah memang menggunakan prinsip buying dan selling dan prinsip itu tampaknya belum terpenuhi.

 

Lain waktu, ibu yang sama sangat penasaran dengan nilai rata-rata kelas. Katanya, beliau ingin tahu seperti apa kemampuan anaknya … apakah setara dengan teman-temannya atau tidak. Ah, mengapa harus dibandingkan? Tulisan Sumarjo memang benar, sang Ibu ternyata memiliki orientasi bahwa prestasi anaknya diukur dari seberapa tinggi nilai yang didapatkannya. Mengapa harus nilai tinggi yang menjadi ukuran keberhasilan pendidikan?

 

Sebagai ilustrasi lain, saya ingin menceritakan para siswa saya yang berharap saya memberikan nilai tinggi. Saya disebut sebagai seorang guru yang pelit nilai. Saya berkata, “Biar aja, gak masalah!” Mereka hanya bisa manyun mendengar tanggapan saya. Saya kemudian bertanya kepada mereka makna nilai 80 (dalam skala 100) untuk mereka. Jawaban mereka beragam. Tapi, secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa nilai 80 adalah nilai tinggi: sebuah kebanggaan. Itu benar, sama sekali tidak ada yang salah. Lalu, saya bertanya lagi tentang apa yang bisa mereka pertanggungjawabkan dari nilai 80. Mereka terdiam mendengar pertanyaan saya. Mungkin saya terlalu berlebihan. Namun, di lain sisi setidaknya hal itu membuat para siswa berpikir. Saya yakin kelak mereka akan bisa bertanggung jawab dengan nilai mereka.

 

Nilai bukanlah sekadar angka atau huruf. Ia adalah sebuah apresiasi terhadap sebuah usaha. Seberapa besar kemampuan seseorang dalam menguasai sesuatu setelah melakukan suatu upaya. Kenyataannya, banyak orang sudah tidak lagi menghargai proses. Ketika apa yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, yang bisa dilakukan hanyalah menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, menyalahkan sistem. Tidakkah bisa dirunut kembali apa yang telah dilakukan sebelumnya dalam proses mendapatkan nilai tersebut? Tentu yang saya maksud adalah proses yang jujur. Saya yakin, ketika sebuah proses sungguh-sungguh dilakukan, hasilnya pasti tidak mengecewakan.

 

Memang semuanya kait-mengait. Kita tidak bisa memandang satu sisi saja. Masih banyak aspek lain yang berpengaruh: guru, sistem pendidikan, fasilitas, keluarga, lingkungan.

 

Kali lain saya berbincang dengan dua kakak saya. Lagi-lagi masalah nilai. Sadar ataupun tidak, mereka pun mulai membandingkan nilai anak-anak mereka. Saya tertegun. Ternyata fenomena itu juga melanda keluarga saya. Salah satu kakak saya mengeluhkan betapa sulitnya pelajaran bagi anak kelas 2 SD. Beliau senewen karena anaknya belum mampu mengikuti pelajaran sulit tersebut. Lalu, saya bertanya tentang hasil tes psikologi anaknya. Katanya, hasil tes psikologinya bagus, tidak ada masalah. Saya tertawa, kalau begitu, yang salah apanya?

 

Selidik punya selidik, akhirnya terkuaklah bahwa anaknya alias keponakan saya merasa tidak percaya diri dengan nilainya yang kurang baik. Gurunya mengancam, jika nilainya buruk, dia akan tinggal kelas. Wah, betapa mengerikan! Betapa ancaman itu akan menjadi sosok horor yang akan menghantuinya: hina jika tinggal kelas. Namun, keponakan saya tidak berdaya. Orang tuanya yakni kakak saya hanya bisa mencak-mencak, apalagi ketika tahu bahwa teman-teman anaknya bernilai bagus karena kesaktian sebuah amplop. Ah … ternyata (oknum) guru pun memberikan sumbangan yang sangat berarti atas kecenderungan ini ….

 

Benar-benar benar apa yang ditulis Jakob Sumarjo. Demi nilai tinggi orang tua rela menipiskan dompetnya, menurunkan nominal rekeningnya. (Oknum) guru pun sampai hati berdagang nilai. Saya ingin marah, tapi saya tidak berada di sana (baca: dunia pendidikan formal) saat ini. Saya belum bisa melakukan apa-apa kecuali berserapah seperti dalam tulisan ini.

 

Saya ingin berlari lagi ke sana (masih dunia pendidikan formal yang saya maksud). Tapi, sanggupkah saya berhadapan dengan paradigma berpikir orang-orang yang mementingkan hasil daripada proses? Kalau saya mampu, saya akan mengubah tingkah laku semua siswa karena itulah tujuan pendidikan yang sesungguhnya: perubahan tingkah laku secara kognitif, afektif, dan psikomotor seperti yang dikatakan Bloom dalam kedelapan aspek kecerdasan (multiple intelligents).

 

Saya jadi bertanya kepada diri sendiri, apakah saya kelak pun akan berpikiran sama? Saya ingat ketika dosen filsafat saya berkata bahwa suatu pernyataan yang salah akan dianggap benar ketika opini publik menyatakan bahwa itu benar. Oh, tidak …! Ini benar-benar gawat!

 

Kamar atas, 03 Januari 2010

20.26