SOTOJI PAGI-PAGI

Suami saya sangat suka makan mi, bihun, soun, dan sejenisnya. Lebih suka lagi kalau bentuknya berkuah, panas dan pedas. Slrrrpppp …! Selera saya yang sebetulnya biasa-biasa saja terhadap hidangan mi pun ikut terundang melihat suami saya menikmati mi berkuah panas itu. Tampak sangat sedap. Apalagi rumah kontrakan kami terletak di daerah yang cukup dingin, sangat mendukung. Yah, anggaplah villa karena you can see very beautiful scenery from the balcony. Pemandangan indah, makan mi berkuah panas dan pedas, cuaca dingin. Mantaabbb!

Beberapa hari lalu saya mendapat Sotoji. Yah, tidak lama setelah saya berkunjung ke web-nya di http://sotoji.com. Senangnya … Gara-gara seorang rekan saya menyebut-nyebut soto instan ini membuat anaknya merem melek ketika memakannya, saya penasaran untuk mencobanya. Saya bawa sotoji pulang ke kontrakan. Sepertinya, suami saya bakal senang melihat si Sotoji ini. Saya juga senang karena tidak usah berpusing-pusing memikirkan makanan selingan apa yang bisa saya hidangkan untuknya. Mi melulu saya juga bosan menyajikannya.
Pagi-pagi, suami saya seperti biasa berkunjung ke dapur. Dia bilang, “Bu, masak ini dong, pengen coba.”

Nah, ini variasi baru. Saya juga toh tidak usah bingung menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasaknya. Oh, rupanya suami saya sudah menyiapkan dua batang pokcoy. Dia ingin Sotoji dimasak dengan sayur itu. “Oke, Pak …!”
Sotoji plus-plus

Cuma beberapa menit, setelah air mendidih, saya merebus soun si Sotoji. Tidak lupa jamur keringnya, dong. Nah, sayurnya juga … saya masak setelah soun agak lembek. Setengah matang, suami saya suka itu. Aha! Ada bakso kecil-kecil. Beberapa butir, lah … cukup. Ada karbohidrat, vitamin, protein, sudah lengkaaaappp!

Saya siramkan kuahnya ke atas soun yang telah lembek di mangkuk yang sudah berbumbu. Aromanya itu, lho … hmmm … mengundang! Bukan mengundang maling … mengundang rasa lapar, lah … pastinya! Bisa jadi pemilik kontrakan ikut terundang juga sih, kalau aromanya sampai tercium ke sana. Maklum, rumah kami persis di atas rumah mereka. Euh, saya jadi lapar lagi, deh!

Saya berikan mangkuk itu kepada suami saya. Maksudnya, mangkuk yang sudah teronggoki si Sotoji ini, ya … bukan mangkuk kosong. Suami saya–yang sedang jongkok di depan televisi yang entah di stasiun mana dan sedang menyiarkan acara apa–pun mulai menyantapnya. Posisinya tidak berubah, tetap jongkok! Sampai Sotoji habis!!! Euleuh, euleuh … saya cuma bisa mencicipi sedikit. Seger, mang! Tapi, keburu dihabiskan oleh suami saya. Ada sih, sebungkus lagi. Tapi, biar buat suami saya saja lah, biar dia senang selalu …. Saya mengalah, siapa tahu nanti dapat kiriman Sotoji lagi. Wkwkwkwk, ngareeppp!

Tandas sudah sebungkus Sotoji. Ternyata, untuk ukuran soun, porsi Sotoji cukup besar. Apalagi kalau ditambah dengan sayur dan bakso seperti yang saya hidangkan untuk suami… kenyang total! Belum lagi kandungan gizinya kalau untuk sarapan mah, pas! Satu lagi yang paling penting buat kami. Di sudut kanan bawah bungkus Sotoji, tertera logo halal … bikin hati tenang, tenteram, aman, dan sejahtera.

Percuma juga kalau cuma mendengar kabar. Kalau mau yakin, mendingan jalan-jalan dulu ke web Sotoji di http://sotoji.com. Terus, langsung dicoba, deh! Jangan lupa dimasak dulu ya … Terbukti ada yang merem melek, ada yang jongkok lupa duduk, kan???

2 pemikiran pada “SOTOJI PAGI-PAGI

  1. abu4faqih mengatakan:

    Satu lagi korban eh … penggemar SOTOJI :D

  2. rizkipd mengatakan:

    berkunjung nih, liat-liat juga ke beranda saya ya Soto ala Sotoji
    terimakasih :) cek ke tkp

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s