NILAI: HASIL ATAU PROSES?

(Sebuah Tanggapan atas Tulisan Jakob Sumarjo)

 

Suatu pagi, saya berbincang dengan Bapak saya yang keren. Kali itu Bapak mengabari saya sebuah tulisan menarik yang ditulis Jakob Sumarjo. Tulisan pendek, tapi sarat maksud dan benar-benar membuat Bapak dan saya sama-sama mengerutkan kening membuat kerutan di kening Bapak dan saya semakin jelas.

 

Dalam tulisan itu Sumarjo membahas bahwa kini orang semakin cenderung memandang nilai (baca: angka atau huruf mutu) sebagai sebuah parameter keberhasilan pendidikan (formal). Semakin tinggi nilai yang diperoleh, semakin berhasillah seseorang, semakin berhasil pula pendidikan.

 

Saya jadi teringat akan sebuah peristiwa. Seorang ibu yang anaknya adalah siswa saya menyampaikan keluhannya bahwa apa yang dikorbankannya untuk sekolah –biaya pendidikan yang cukup tinggi– tidak sebanding dengan pelayanan yang diberikan pihak sekolah. Beliau protes karena perilaku dan prestasi anaknya tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya: santun, berbudi, dan mendapatkan nilai tinggi. Yah, dalam hal ini pihak sekolah memang menggunakan prinsip buying dan selling dan prinsip itu tampaknya belum terpenuhi.

 

Lain waktu, ibu yang sama sangat penasaran dengan nilai rata-rata kelas. Katanya, beliau ingin tahu seperti apa kemampuan anaknya … apakah setara dengan teman-temannya atau tidak. Ah, mengapa harus dibandingkan? Tulisan Sumarjo memang benar, sang Ibu ternyata memiliki orientasi bahwa prestasi anaknya diukur dari seberapa tinggi nilai yang didapatkannya. Mengapa harus nilai tinggi yang menjadi ukuran keberhasilan pendidikan?

 

Sebagai ilustrasi lain, saya ingin menceritakan para siswa saya yang berharap saya memberikan nilai tinggi. Saya disebut sebagai seorang guru yang pelit nilai. Saya berkata, “Biar aja, gak masalah!” Mereka hanya bisa manyun mendengar tanggapan saya. Saya kemudian bertanya kepada mereka makna nilai 80 (dalam skala 100) untuk mereka. Jawaban mereka beragam. Tapi, secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa nilai 80 adalah nilai tinggi: sebuah kebanggaan. Itu benar, sama sekali tidak ada yang salah. Lalu, saya bertanya lagi tentang apa yang bisa mereka pertanggungjawabkan dari nilai 80. Mereka terdiam mendengar pertanyaan saya. Mungkin saya terlalu berlebihan. Namun, di lain sisi setidaknya hal itu membuat para siswa berpikir. Saya yakin kelak mereka akan bisa bertanggung jawab dengan nilai mereka.

 

Nilai bukanlah sekadar angka atau huruf. Ia adalah sebuah apresiasi terhadap sebuah usaha. Seberapa besar kemampuan seseorang dalam menguasai sesuatu setelah melakukan suatu upaya. Kenyataannya, banyak orang sudah tidak lagi menghargai proses. Ketika apa yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, yang bisa dilakukan hanyalah menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, menyalahkan sistem. Tidakkah bisa dirunut kembali apa yang telah dilakukan sebelumnya dalam proses mendapatkan nilai tersebut? Tentu yang saya maksud adalah proses yang jujur. Saya yakin, ketika sebuah proses sungguh-sungguh dilakukan, hasilnya pasti tidak mengecewakan.

 

Memang semuanya kait-mengait. Kita tidak bisa memandang satu sisi saja. Masih banyak aspek lain yang berpengaruh: guru, sistem pendidikan, fasilitas, keluarga, lingkungan.

 

Kali lain saya berbincang dengan dua kakak saya. Lagi-lagi masalah nilai. Sadar ataupun tidak, mereka pun mulai membandingkan nilai anak-anak mereka. Saya tertegun. Ternyata fenomena itu juga melanda keluarga saya. Salah satu kakak saya mengeluhkan betapa sulitnya pelajaran bagi anak kelas 2 SD. Beliau senewen karena anaknya belum mampu mengikuti pelajaran sulit tersebut. Lalu, saya bertanya tentang hasil tes psikologi anaknya. Katanya, hasil tes psikologinya bagus, tidak ada masalah. Saya tertawa, kalau begitu, yang salah apanya?

 

Selidik punya selidik, akhirnya terkuaklah bahwa anaknya alias keponakan saya merasa tidak percaya diri dengan nilainya yang kurang baik. Gurunya mengancam, jika nilainya buruk, dia akan tinggal kelas. Wah, betapa mengerikan! Betapa ancaman itu akan menjadi sosok horor yang akan menghantuinya: hina jika tinggal kelas. Namun, keponakan saya tidak berdaya. Orang tuanya yakni kakak saya hanya bisa mencak-mencak, apalagi ketika tahu bahwa teman-teman anaknya bernilai bagus karena kesaktian sebuah amplop. Ah … ternyata (oknum) guru pun memberikan sumbangan yang sangat berarti atas kecenderungan ini ….

 

Benar-benar benar apa yang ditulis Jakob Sumarjo. Demi nilai tinggi orang tua rela menipiskan dompetnya, menurunkan nominal rekeningnya. (Oknum) guru pun sampai hati berdagang nilai. Saya ingin marah, tapi saya tidak berada di sana (baca: dunia pendidikan formal) saat ini. Saya belum bisa melakukan apa-apa kecuali berserapah seperti dalam tulisan ini.

 

Saya ingin berlari lagi ke sana (masih dunia pendidikan formal yang saya maksud). Tapi, sanggupkah saya berhadapan dengan paradigma berpikir orang-orang yang mementingkan hasil daripada proses? Kalau saya mampu, saya akan mengubah tingkah laku semua siswa karena itulah tujuan pendidikan yang sesungguhnya: perubahan tingkah laku secara kognitif, afektif, dan psikomotor seperti yang dikatakan Bloom dalam kedelapan aspek kecerdasan (multiple intelligents).

 

Saya jadi bertanya kepada diri sendiri, apakah saya kelak pun akan berpikiran sama? Saya ingat ketika dosen filsafat saya berkata bahwa suatu pernyataan yang salah akan dianggap benar ketika opini publik menyatakan bahwa itu benar. Oh, tidak …! Ini benar-benar gawat!

 

Kamar atas, 03 Januari 2010

20.26

 

 

 

5 pemikiran pada “NILAI: HASIL ATAU PROSES?

  1. adetruna (@adetruna) mengatakan:

    istri saya pernah melakukan aksi protes karena nilai agama anak kami, Salma kok tidak sesuai harapan… Istri saya mencoba berdialog dengan wali kelasnya Salma.

    Besoknya, guru agama bertamu ke rumah, dan menjelaskan bahwa benar terjadi kesalahan; bukan 6 seperti yang tertulis dirapor tetapi seharusnya nilai agama Salma 8.

    Saya pribadi bilang begini -setelah diceritakan dan sebelum guru datang ke rumah-, “Salma, benar kamu memiliki kemampuan menguasai pelajaran agama? Dan apakah memang nilai segitu (enam) tidak pantas kamu dapatkan?” Anakku menjawab, “Bener pap… Sehari-hari Salma nilainya bagus-bagus! Nilai 6 dirapor tidak pantas buatku!”

    Kaitannya dengan artikel di atas, alhamdulillah, untuk saat ini takada yang namanya upaya merogoh uang saku lebih dalam untuk meraih prestasi pelajaran di sekolah (formal) bagi anak kami, Salma.

    Jadi, aku nggak punya pengalaman dan tidak akan ngoyo agar anak ‘double standard’ dengan prestasinya :) *IMHO

    • bebeiprafantya mengatakan:

      Alhamdulillah kalau begitu, Om Adtrun …. Masih jarang guru yang mengakui kesalahan seperti itu. Rasanya, tidak juga kita perlu merogoh kantong (apalagi kantong orang lain) untuk mendapatkan nilai. Yang penting, semua pihak harus menyadari, proses juga penting, bukan cuma hasil.

  2. [...] cerita beberapa bulan yang lalu. Namun saya kembali teringat setelah teman saya bercerita tentang Nilai: Hasil atau Proses — kontennya bagus deh, silakan pembaca [...]

  3. Endi mengatakan:

    terkadang ada siswa merasa bangga mas mendapatkan nilai yang tinggi, meskipun ia sadari bahwa nilai yang tinggi itu berasal dari contekan. Namun adanya ancaman-ancaman yang dapat membuat seorang siswa melakukan cara-cara yang negatif untuk mendapatkan nilai bagus.
    ancaman-ancaman inipula mendorong siswa untuk kurang mempercayai kemampuannya.

  4. beinaprafantya mengatakan:

    Ya, setuju dengan Endi. Memang begitu faktanya. Inilah yang mendorong banyak orang berlomba-lomba mencapai nilai tertinggi dengan segala cara. Bahkan, dengan cara yang kurang santun sekalipun. Sedih, ya?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s